Permulaan

Tubuh itu sudah tak berdaya. Bajunya masih terpasang tapi robek menganga dari dada ke perut. Tenaga yang tersisa tidak cukup bagi tubuh itu untuk sekedar berjalan, menghimpun langkah demi langkah menjauh dari gedung bekas gudang pabrik tekstil yang sudah lama gulung tikar. Kedua kakinya terkulai terbuka, sakit dan ngilu terasa kuat di selangkangannya. Entah sudah berapa kali Norman menghantamkan kemaluannya ke dalam tubuh itu tadi. Nuraini tidak menghitung, tidak merasa, hanya ingin pergi. Norman sedang sibuk mengarahkan kaki-kakinya masuk ke dalam celana jeans yang sudah usang. Sambil mengarahkan kepala ke atas, Norman berdesah puas lalu mengarahkan matanya kepada seonggok tubuh yang terkulai di tengah-tengah ruangan. “Harusnya kau bersyukur, Nur” kata Norman sambil membereskan kemaluannya.

Nuraini tak menggubris perkataan itu. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya sudah gemetaran karena malam semakin dingin. Diam terasa tepat bagi Nuraini untuk membalas perkataan laki-laki itu. Dengan segenap tulang-belulangnya Nuraini menggerakkan kedua kakinya merapat. Tangannya bergerak meraup tubuhnya, merengkuh sisa kehangatan yang ada. “Hei! Dengar tidak?! Dasar perempuan tolol! Siapa yang kau punya sekarang? Orang tuamu saja tidak sudi memelihara kamu. Lihat, badanmu yang kurus, dekil, buah dadamu saja kempis.” ucap Norman dengan mata melotot seperti baru melihat anaknya sendiri menumpahkan kopi di taplak meja berwarna putih. Tak ada satupun respon dari Nuraini membuat kemarahan Norman semakin membuncah. Spontan laki-laki itu mengambil balok kayu yang ada di dekat kakinya, mengangkatnya tinggi-tinggi seraya menjambak rambut Nuraini. Nuraini tak melawan ataupun berontak, hanya mengikuti kemana tangan itu membawa sejumput rambutnya. “Mana mulutmu? Apakah mulutmu itu cuma untuk kemaluanku, hah? Perempuan jalang!” teriak Norman. Balok kayu itu pun melayang, ke pinggang, punggung, kaki, nperut, dan tangannya. Lagi, lagi, dan lagi.

Norman mulai merasa lelah dan sadar bahwa sebanyak apapun pukulan yang diberikan, Nuraini akan tetap teguh diam tak memberikan sanggahan. Dilemparnya balok kayu itu ke sudut ruangan lalu ditariknya rambut Nuraini semakin jauh ke belakang, membuat kepala Nuraini menengadah ke atas dan lehernya terbuka bebas, seperti ayam yang akan disembelih. Laki-laki itu menatap wajah Nuraini dengan birahi yang kembali muncul lalu meludahi wajah Nuraini. “Nur, nur. Makan dan tidur sudah aku bantu. Buang tai saja aku berikan tempat. Menidurimu sepuluh kali lagi pun tidak akan menutupi biaya yang harusnya kau bayar untuk itu semua,” Norman melepaskan tangannya dari rambut Nur lalu membakar sebatang rokok. Norman berjalan ke arah jendela, memutuskan untuk duduk di atas tumpukan kotak kayu dan mengarahkan pandangan keluar. Asap yang disemburkan mulai membumbung ke langit-langit gudang, berpencar dan membaur dengan cahaya lampu berwarna jingga. Nuraini kembali merengkuh badannya. Rasa perih tak tertahankan mulai muncul di panggul dan kaki kirinya. Wajahnya tertunduk dan beberapa helai rambutnya menutupi mata dan hidung, tapi tidak bibirnya yang pucat. Badan Nuraini yang sudah gemetaran kini semakin menjadi. Bergemuruh semakin hebat diiringi suara tawa yang keluar dari batang tenggorokannya. Tawa itu semakin kencang dan kuat, tak dihiraukannya rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya. Setelah puas tertawa, sambil meringis Nuraini berkata, “Laki-laki. Tak pernah puas. Menghisap buah dadaku saja sudah seperti anak kambing kehausan. Sekarang kau hisap lagi lintingan daun kering. Nanti kau hisap apa lagi?” kata Nuraini sinis. Sekonyong-konyong Norman langsung membuang rokok yang baru setengah habis dan mengambil langkah cepat kembali ke Nuraini. Tanpa segan Nuraini mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan, menyongsong kedatangan Norman yang kembali membawa balok kayu yang dia pakai tadi, siap menyiksa Nuraini dengan nafsunya. Begitupun Nuraini, siap untuk diremukkan tulangnya.

Sontak, terdengar suara keras dari sisi kiri gudang dan pintu pun sudah terbuka selebar-lebarnya. “Hah… pintu besi karatan itu semakin berat saja”. Suaranya yang tipis dan tinggi tak sepadan dengan penampilannya yang maskulin. Perempuan itu berjalan santai ke arah Nuraini dan Norman. Wajahnya tak menunjukkan emosi apapun, hanya matanya yang tajam berwarna cokelat susu menusuk langsung ke wajah Norman yang kini berdiri mematung. Balok kayu masih menempel di tangannya. “Norman, kau ini tidak ada kapok-kapoknya. Ini sudah ketiga kalinya aku menemukanmu memporak-porandakan Nur,” kata perempuan itu dan senyum sinis tak tertahankan mengembang di wajah mungilnya. Wajah Norman berubah pucat dan keras, bulir keringat mulai beranak dari pori-pori kulitnya. “Tak ada urusannya denganmu,” balas Norman. Keberadaan Norman seakan tak dianggap oleh perempuan itu. Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam celana jeans buluk yang dipakainya, perempuan itu melihat Nuraini yang masih duduk dengan bantuan tanggannya yang bertumpu ke lantai. “Nur, kenapa kau tidak teriak, atau berontak, ya bunuh lah bajingan ini seharusnya,” kata perempuan itu. Nuraini tak menjawab, hanya menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat wajah perempuan itu dengan mata sayunya yang semakin redup karena kelelahan.

Merasa tatapan Nuraini mulai mengusik, perempuan itu pun akhirnya kembali berbicara kepada Norman. “Kalau kau mau barangmu itu ada yang puaskan tiap hari, pergi cari istri, Norman. Oh aku lupa, kau tidak pernah pandai berumah tangga, sudah 11 perempuan kau jadikan istri dan meninggal semua. Kutukan ya?”. Geram mulai menggunung di dalam tubuh Norman dan dia menatap Nuraini dengan tatapan bengis seolah-olah dengan matanya saja Nuraini sudah bisa tercincang habis. “Semuanya karena dia, pelacur itu,” jari telunjuk Norman mengarah ke Nuraini.

Suara Nur yang sedari tadi bungkam di antara percakapan alot itu pun akhirnya bergema,

“Tenang. Itu hanya permulaan.”

Advertisements

Langit Tak Tega

Malam itu Nuraini buka jendela kamar. Hujan terjadi setelah berhari-hari langit enggan menurunkannya. 

“Langit tak melahirkan, tapi menangis kali ini,” ucapnya dalam hati. 

Nuraini berandai-andai, siapa yang bersedih dengan sangat hari ini? Sengaja Nuraini mebiarkan jendela terbuka dan tampias air hujan pun mulai masuk ke dalam kamar kosnya. Nuraini hanya menatap dengan sendu rintik air yang bebas masuk itu.

“Siapa yang sedang bersedih sampai seperti ini?” kata Nuraini sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit malam. Hatinya gundah dan menumpuk semakin tebal menjadi gelisah. Siapa? Siapa? Siapa? Gema kata itu semakin keras menggaung dalam kepalanya.

Tak kuasa menahan, dia mengambil payung lalu bergegas berlari keluar dari rumah kosnya. Hujan yang turun kala itu tidak sangat deras, tapi cukup untuk membuat Nuraini tak tega. Nuraini memutuskan untuk berjalan ke arah jalan raya. Ditengoknya ke kanan dan ke kiri, sejauh trotoar luas yang terbentang Nuraini tidak melihat siapapun. “Dimana dirimu?” ucapnya gelisah.

Nuraini memutuskan untuk berbelok  ke kiri dan menyusuri trotoar dengan langkah tenang. Digenggamnya gagang payung dengan erat sampai-sampai tangannya tidak merasakan hawa dingin akibat hujan. Semakin jauh dia berjalan semakin ngilu rasa yang timbul di dalam dadanya.

Ketika tiba di sebuah persimpangan, Nuraini dengan yakin mengubah arah langkahnya. Dia memutuskan untuk berbelok ke arah kiri menyusurin jalan. Di kiri dan kanan hanya ada rumah warga dan beberapa rumah makan. Ketika dia melewati warung pecel lele yang mangkal di pinggir kali, Nuraini terdiam sejenak. “Kamu pernah disini, kamu yang bersedih. Sekarang dimana kamu?” gundahnya dalam hati.
Nuraini pun melanjutkan perjalanannya. Hujan tak kunjung berhenti dan air hujan kala itu sudah membasahi celana Nuraini dari lutut hingga mata kaki. Ketika itu juga, lewatlah seorang bapak-bapak yang merupakan tetangga rumah kos Nuraini. Bapak-bapak itu heran, mengapa Nuraini berjalan-jalan ditengah hujan seperti ini? Hendak bertanya, tapi si Bapak mengurungkannya dan memutuskan untuk tetap berjalan melewati Nuraini. Tapi Nuraini dengan sigap menahan tangan si Bapak dan langsung berkata, “Bapak, siapa yang bersedih hari ini? Air hujan sampai seperti ini.” 

Si Bapak bingung, menurutnya ini hanya hujan seperti pada umumnya. Basah, berair, dan turun dari langit berjamaah. “Tidak tahu, mbak. Kalau pertanyaan mbak seperti itu. Memang kenapa air hujannya?” 

“Bapak tak tahu siapa yang bersedih? Saya mencari-cari dari tadi. Air hujannya pak, air hujannya,” balas Nuraini

Merasa ada yang tidak beres dengan perempuan ini, Bapak itu pun langsung pergi berjalan tegak lurus tidak menengok sekalipun. Nuraini hanya diam sembari melihat si Bapak yang semakin kecil gambaran tubuhnya, dan dia kembali berjalan.

Kakinya mulai terasa pegal, dan yang dicari pun tak bertemu juga. Nuraini memutuskan untuk kembali pulang ke rumah kosnya. Nuraini mengambil langkah pelan, telapak tangan kanannya yang sedang bebas tugas ditengadahkannya ke arah hujan turun. Air hujan menyentuh kulit telapaknya yang pucat. “Maafkan aku, aku belum bisa menemukanmu.” kata Nuraini. 

Tinggal 15 langkah kaki lagi dan Nuraini akan sampai. Dia menghitung tiap langkah itu, mencoba untuk mengulur waktu agar tidak cepat sampai. “1, 2, 3….” rapalnya dalam hati. “13, 14…”

Satu langkah lagi….. 

Dan disitu, di depan rumah kosnya duduklah tubuh seorang perempuan. Nuraini hanya terdiam, syarafnya tidak menerima perintah apapun untuk memunculkan ekspresi di wajahnya. “Akhirnya…” ucapnya pelan.

“Hujan ini karena kamu, mbak. Kenapa kamu?” kata Nuraini

“Saya rasa mbak sudah tahu.” jawab perempuan itu. 

“Sedih pasti. Saya tahu. Sedihmu membuat langit sampai begini tapi. Seperti apa didalam badanmu itu, mbak?” tanya Nuraini kembali. 

“Porak poranda, mbak. Porak poranda. Gedung-gedung yang kubangun di dalam badanku. Dia yang ku simpain baik-baik di dalam ini, telah pergi. Gedung-gedung ku tak terawat, dan hanya dia yang mampu merawat. Aku…” 

Perempuan itu menatap lurus kedepan tapi jauh entah kemana yang dia lihat. Nuraini duduk disampingnya, memberikan teduh dengan payungnya. “Maka biarkan dia pergi, mbak.” kata Nuraini. 

“Sudah, mbak. Tapi bagaimana kalau dia menemukan gedung baru?” tanya perempuan itu, suaranya mulai bergetar.

“Ku kembalikan pertanyaan itu kepadamu, mbak. Gedung dalam badanmu kuat,” Nuraini memegang bahunya. 

“Kasihmu padanya meretas mazhab yang ada. Mengatasi langit, sampai-sampai langit tak tega seperti ini.” lanjutnya.

“Berbahagialah dia, mbak. Maka berbahagialah dirimu. Sakitlah dia, maka sakitlah dirimu. Matilah dia, maka matilah juga dirimu. Mbak, tunggu kalau memang mbak mau.”

Perempuan itu tetap diam dan Nuraini meninggalkannya. Dia tahu perempuan itu sudah hancur jeroannya. Saat masuk ke kamar, Nuraini menangis sampai pagi.

Pagi setelahnya… 

Nuraini berjalan di trotoar hendak menikmati pagi. Dia pun tahu ada yang harus dia lakukan karena dia sudah bersiap dari semalam. Setelah sampai di persimpangan yang ia lewati kemarin, dia pun berhenti dan menunggu. Tiba-tiba, terdengar suara rem mendadak dan benturan keras, kerumunan berteriak tak beraturan. Nuraini melihat dari kejauhan.

Setelah kerumunan sedikit memencar dari tempat kejadian, Nuraini melangkah mendekat. Dan disitu, perempuan semalam, tergeletak berdarah dikepala dan dada. Mukanya mulai pucat seiring dengan darah yang mengalir keluar. Nuraini tanpa segan menyentuh wajah perempuan itu dan berkata, “Matilah dirinya, maka matilah dirimu. Tapi karena kasihmu, semesta memilih untuk kamu mati baginya terlebih dulu. Jeroanmu sudah tak sanggup kalau harus menahan duka kematiannya, mbak” ucapnya lirih. 

Disitu, Nuraini menangis tanpa suara. Dan hujan pun kembali turun. Kali ini, deras tak terbendung.

10 menit 17 detik

Nuraini.

Aku mengenalnya ketika aku sedang menunggu hujan reda di halte Tanjung Barat, tepatnya senin sore menjelang maghrib. Tak seketika itu juga aku langsung menyapa dan berbincang dengannya. Seperti layaknya warga biasa saja, ritualnya adalah, duduk lalu melamun atau terhipnotis oleh smartphone.

Aku memilih untuk tidak menggerayangi si ponsel pintar. “Hujan lebih menarik” pikirku. Gestur duduk pun aku atur, mencoba menghindari tampias air hujan sembari  menjejalkan pantatku agar mendapat posisi nyaman tapi tidak menjadikan wajah orang lain sinis. Maklumkanlah, saat ada lahan kosong untuk bokong, saat itulah semua manusia berada di tingkat keegoisan tertinggi. Pantatku adalah prioritas!

Setelah mendapat posisi yang nyaman, aku hendak memulai ritual memandang hujan. Sekujur tubuhku terasa panas di tengah hawa lembap sekaligus sejuk akibat perjalanan naik turun tangga jembatan penyebrangan dari stasiun ke halte. Aku mencoba untuk santai dan membiarkan hawa hujan pelan-pelan masuk melewati pakaianku. Mata pun kuarahkan kepada hujan.

“Hujan kali ini tidak normal, seperti direka-reka.” kataku dalam pikiran. Kala itulah, sekilas aku tengok perempuan itu. Dia pun memandang hujan tapi tidak seperti aku yang menatap lurus ke depan, dia menengadahkan kepalanya ke atas dan mengatur matanya ke kejauhan awan kelabu. Dia tak pernah merubah posisi itu, dia seperti sedang menunggu langit untuk memberikan tetes terakhir. Matanya sendu dan bibirnya sarat senyum pilu. “Lagi berdoa kali ya?” pikirku. 

Berdoa pada langit? Atau pada air hujan? Yah aku tau apa. Tapi dia begitu khidmat dan tak bergerak sesenti pun. Tersentak, aku merasa segan karena aku juga memandangi dia seperti cara dia memandang, seketika aku atur kembali gesturku. Perlahan rasa penasaran muncul dalam hatiku dan otak ku mulai menyusun huruf per huruf yang menjadi kata lalu beranak pinak yang pada akhirnya menjadi kalimat, “Apa yang kau pandang sebenarnya?” dan syarafku mulai diperintah untuk menggerakkan bibir. Ku tahan seketika itu juga, konyol! Kepo yang tidak perlu. Aku bentak diriku sendiri untuk melakukan hal yang perlu saja.

Sudah dua jam tapi hujan tak kunjung berhenti. Dan selama dua jam itu juga Nuraini, yang nanti ku ketahui namanya setelah berkenalan, bertahan pada posisi yang sama. Tingkahnya itu, membuat aku semakin kepo tak karuan. Dari penasaran yang sederhana sampai kepada yang rumit tingkat dewa. Asumsi-asumsi mulai terbentuk di kepala, mengantri untuk disuarakan. “Kalau setengah jam lagi hujan tak berhenti dan dia masih seperti itu. Aku akan bertanya!” komitmenku yang nekat ini terasa kuat sampai aku merasa yakin. 

Setengah jam lagi pun berlalu dan dia tetap pada posisi itu. Aku bulatkan tekadku yang sudah ku bentuk setengah jam sebelumnya dan ku gerakkan bibirku sambol mengantar jari telunjukku ke kulit lengannya. Aku menghentakkan pelan jariku pada kulitnya dua kali, bibirku mulai bergerak “Mbak, tidak pegal?”. Dari situlah, percakapan selama 10 menit 17 detik itu dimulai.

“Ah iya, pegel mbak. Hujannya lama ya.” katanya dengan ramah dan santai seperti sudah kenal dengan ku satu semester. 

“Aku memperhatikan mbak dari tadi. Awalnya sih lihat hujan.” balasku

“Iyakah? Tak sadar aku.”

Aku pun mencoba untuk lebih beradab, “Namaku Ema. Siapa namamu?”. 

“Nuraini. Senang punya teman baru, kini kosakata namaku bertambah. Ema.” jawabnya dengan suara lembut. 

“Apakah kau berdoa? Barusan? ”

Nuraini menjawab,”Ya, bisa disebut seperti itu. Tapi aku tak terlalu mematokkan apa yang aku lakukan kepada satu lingkup kegiatan saja, mbak. Tadi itu aku melakukan banyak hal.”

Aku pun bingung.”Maksudnya?” 

“Ya aku memang berdoa. Berbicara tentang harapan dalam hati itu berdoa kan? Aku juga berandai-andai tentang hujan yang dilahirkan langit secara massal, aku berpesan kepada langit jangan melahirkan terus. Anakmu akan mengamuk dan menggenangi bumi nanti bersama dengan sungai dan kali. Semoga langit mau mengerti ya, mbak.”

Orang ini gendeng, pikirku. Tapi anehnya hasrat kepo ini semakin meningkat volumenya. Bibirku pun berkicau melanjutkan pertanyaan. 

“Mbak, langit macam apa yang mau menerima pesan manusia?”

Dia menatap mataku, mata tersendu yang pernah kulihat dengan lingkar mata panda yant terpampang jelas. Diapun menjawab, “Langit yang baik, mbak.” senyum menyertai jawabannya. Ah! Aku tak mengerti. Aku memilih untuk menganggukkan kepalaku tanda mengerti (yang sebenarnya tidak) dan usainya pembicaraan. Aku sedikit terkejut ketika mendengar suaranya kembali, “Aku sedang menunggu. Hanya langit yang mau menerima keluh kesahku tanpa menggurui dan berkomentar, berkritik serta berwasiat. Dia selalu disana, tidak pernah sengaja pergi atau mengacuhkan. Menunggu itu melelahkan, mbak. Kau pasti tahu. Dan hanya langit yang mampu mendengar keluh lelahku tanpa berambisi untuk membalas kesahku itu.”

Aku pun mengangguk lagi sambil bergumam, “Oh…..”

Aku tak mengerti, sebagai manusia aku menginginkan respon dan saran terkait apa yang kuceritakan mengenai hal baik atau hal buruk. Tapi aku tak mengerti juga mengapa aku harus berpikir seperti ini. Dia adalah dia. Aku adalah aku. Aku tak bisa memaksakan apa yang kuanggap ideal kepada semua orang, ku jejalkan renungan singkat barusan itu ke nuraniku agar aku bisa mengontrol diri.

10 menit 17 detik pun berlalu. Sekarang pukul 8.59 WIB. Hujan sudah mulai berhenti. Aku mulai membuka handphone dan memilih aplikasi ojek online, mengatur lokasi menuju rumah. Dan Nuraini masih duduk disitu, dan saat ku tengok kali ini dia memandangiku. “Mbak ema, kau adalah langit yang baik. Entah kau mau atau tidak, usahakan jadi langit yang baik selalu.”
“Iya mbak Nuraini. Saya duluan ya, mari.” jawabku. 

“Mari, mbak.” balasnya.

Langit yang baik, langit yang baik. Apa sih?? Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan melanjutkan perjalananku ke rumah. Sepanjang jalan, ternyata driver ojek kali ini sangatlah suka berbincang dan ramah. Jujur aku sangat lelah dan hanya ingin duduk menikmati perjalanan yang tersisa. Tapi, dia tidak berhenti berbicara. Driver ini terus mendongengkan keluh kesahnya sepanjang hari ini dan aku pun hendak memasang earphone. Sekilas saat merogoh tas mencari earphone itu, sambil mendongakkan kepala agak serong ke atas tak sengaja aku memandang langit jernih sehabis hujan. “Langit yang baik.” pikirku. 

Percakapan 10 menit 17 detik itu pun tereka ulang secara mendadak. Terpapar jelas dan kuat visual dan suara Nuraini ketia ia mengatakan, “Hanya langit yang mau menerima keluh kesahku tanpa menggurui dan berkomentar, berkritik serta berwasiat. Dia selalu disana, tidak pernah sengaja pergi atau mengacuhkan….. Kau adalah langit yang baik, jadilah langit yang baik selalu.”

Aku pun terdiam. Aku hentikan kegiatan ku mencari earphone. Dan ku coba untuk menajamkan telingaku agar cerita driver ini bisa kudengar. Mengagumkan sekali kemampuan driver ini untuk berkata-kata, tidak mengenal lelah. Dan aku pun heran dengan keberadaanku yang diam sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah. Saat aku hendak membayar, driver itu berkata, “Mbak, maaf saya berbicara terus. Saya mencoba untuk profesional tetapi saya hanya ingin berbicara, mbak. Abisnya kebelet mau curhat, capek mbak hehe.” 

Aku pun menjawab, “Iya saya juga capek. Sama-sama capek kita, pak. Tapi bapak tidak capek untuk melawan capek. Itu hebat loh pak.” 

Dia tersipu, lalu berkata “Tak akan pernah berhenti melawan capek, mbak. Istri merindukan saya di rumah. Saya harus pulang membawa hasil untuk membalas tenaga yang dia keluarkan saat merindukan saya.”

Aku pun tersenyum.”Ini pak, uangnya. Semoga berkah. Terima kasih.”

“Semoga. Terima kasih kembali, mbak.”dan dia pun pergi. 

Langit yang baik. Ema yang baik. Ema yang diam sepanjang perjalanan mendengarkan driver bercerita tanpa berkomentar dan tidak acuh. “Apa yang aku dapat dari itu semua? Hanya cerita.” pikirku. Tapi… Aku mulai mengingat kembali, wajah bapak itu mengkerut kali pertama aku bertemu saat dijemput dan berubah drastis saat sampai di depan rumah. Lelah masih, tapi lebih lempeng dan tidak keras garis wajahnya. Matanya berbinar saat menyebut kata “istri” dan “rindu”. 

“Dia berubah.” kataku pelan. “Diamku membuat dia berubah cerah. Aneh.” kataku lagi sambil garuk-garuk pipi. 

Langit yang baik. Ema yang baik.

Sejak setelah itu, aku selalu memandang langit. Tersadar akan ketenangannya mengawasi awan bergerak dan membiarkan cahaya matahari menyengat melewatinya, kelihatannya dia sangat paham sekali bahwa manusia butuh itu. Dan mengetahui juga bahwa dia tidak marah saat petir menggelegar semaunya dan hujan membuat warnanya kelabu. Dia merasa, melihat, dan mendengar itu semua. 

“Langit yang baik.” pujiku padanya.

Nuraini itu wanita ajaib. Aku berharap bisa bertemu kembali dengannya. Setiap aku duduk di halte Tanjung Barat, aku sempatkan duduk lebih lama agar bisa bertemu. Tapi dia tak kunjung muncul. “Nuraini yang ajaib, dan baik..” kataku sambil berdesah. Lalu aku mengangkat pantatku, berjalan menuju ojek online yang sudah sampai untuk mengantarku pulang. 

(Senin sore di Perpustakaan UI, seminggu setelah) 

Laki-laki itu duduk di halaman Perpus, mengarah ke danau. “Lelahnya…” kata laki-laku itu. 

Di sampingnya, duduk seorang perempuan. Manis parasnya dengan rambut hitam legam sampai batas leher. Sedang mendongakkan kepalanya ke arah atas. Laki-laki itu mencoba membuka pembicaraan, “Mbak, maba ya?” 

“Saya tidak kuliah disini, mas.” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. 

“Lalu, mbak dari mana? Mau baca buku? Atau ngapain nih?” balas laki-laki itu berusaha ramah. Meskipun sudah mulai ragu karena lawan bicaranya tidak mau menengok kepadanya. 

Perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya sangat sendu dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. Senyumnya pilu seraya menjawab, “Berbicara, mas. Dengan dia, langit yang baik…”

Perempuan dan Air Mata

Sudah lama sekali saya puasa menulis. Gelisah rasanya, tidak bisa mengeluarkan apa yang saya pikirkan lewat kata-kata. 

Di tulisan ini, saya tidak memakai kata pengganti diri saya dengan kata ‘gue’. Ya ingin lebih santun saja kali ini, lebih kalem hehe. 

Kali ini saya ingin menulis tentang pemikiran saya mengenai perempuan dan air mata. Kami dan air mata adalah kawan yang tidak terpisahkan. Bisa dibilang, air mata selalu hadir segera saat kami gelisah, gundah, kesal, marah, bahkan bahagia. Setia sekali air mata ya. 

Perempuan, sedari dulu digambarkan sebagai makhluk yang lemah lembut dan perlu perlindungan. Oleh karenanya perlakuan terhadap kami pun dilakukan dengan hati-hati. Perlu kepekaan dengan tingkat yang cukup tinggi untuk benar-benar mengerti apa maksud hati kami. Dan air mata, adalah salah satu senjata kami. 

Senjata ini, jangan pembaca artikan sebagai alat untuk menyerang ya. Ada berbagai fungsi ‘senjata’ dari air mata kami. 

Pertama, air mata kami adalah senjata yang kami gunakan untuk meruntuhkan tembok kekesalan dan rasa marah kami. Air mata yang kami gunakan untuk menghacurkan tembok tersebut tak cukup dikeluarkan dalam sehari. Bisa 2 hari, seminggu, sebulan, setahun, ya tergantung kadar rasa-rasa tersebut dalam diri kami. Kami harus mengerahkan banyak air mata, bahkan secara sukarela dia suka mengalir sendiri. Seakan tau kalau dia harus segera hancurkan tembok negatif itu.

Kedua, air mata kami adalah senjata untuk melunturkan kesedihan dan kekecewaan kami. Rasa sedih dan kecewa itu seperti lumpur yang tiba-tiba jatuh dari atas, entah dari mana, menutupi seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lengket, padat, dan susah untuk dibersihkan. Saat itu air mata kami akan berusaha mengikis lumpur tersebut seperti hujan. Sebelum lumpur itu mengeras dan akhirnya jadi dendam kesumat.

Ketiga, air mata kami adalah senjata kami untuk melindungi seperti tameng. Menandakan bahwa kami tidak bisa ditindas, kami tidak bisa diperlakukan tidak sederajat, dan kami tidak bisa dianggap remeh.

Keempat, air mata adalah wujud kebanggaan kami terhadap kebahagiaan yang diizinkan untuk terjadi dalam hidup kami atau kami rayakan bersama orang lain. Senjata baru, yang fungsinya mengukir kebahagiaan untuk orang lain. Seperti pisau yang dipakai untuk mengukir patung-patung indah yang memanjakan mata dan memuaskan hasrat penggiatnya. 

Betapa banyak yang sebenarnya bisa dimaknai oleh orang banyak terhadap air mata dan kami, perempuan. Salah satunya ‘cengeng’ mungkin sudah kenyang kami dengar. Tapi dibalik itu semua, saya pribadi, dan mungkin perempuan yang sependapat dengan saya, bangga untuk berair mata oleh karena keempat fungsi senjata di atas. 

Air mata tidak menjadikan saya lembek. Tetapi menyadarkan dan menampar saya, bahwa ada yang salah dan harus ada tindakan! Dan juga memberi saya kesempatan untuk berbahagia dalam momen-momen tertentu. 

Jangan malu kalau kita berair mata. Coba bayangkan betapa kecewanya air mata saat tahu kita malu, dan bayangkan kalau dia ngambek dan tidak mau keluar menemani kita lagi. Menyiksa pasti.

Hidup?  (Pt. 3)

Marah ada rasanya.

Semakin lama, semakin pahit di badan.

Pahit bukanlah rasa yang menjadi kesukaan orang-orang pada umumnya. Bahkan coklat yang pahit belum tentu disukai juga oleh pecinta coklat. Kalau kita makan sesuatu yang pahit, muka kita akan mengeluarkan ekspresi yang aneh. Lidah dikeluarkan lalu akan keluar suara “huek!”, atau “apaan nih?!”, atau “cuh!”, dikeluarkan dari mulut sesegera mungkin.

Tapi rasa pahit juga tidak selamanya buruk. Obat dan sayur misalnya. Keduanya memberikan manfaat. Obat menyembuhkan, sementara sayur memberikan asupan gizi dan vitamin untuk tubuh kita.

Lalu, bagaimana dengan marah?

Silahkan menengok sebentar ke tulisan gue sebelumnya Hidup (Pt. 2) untuk bisa nyambung ke bahasan kali ini.

Untuk gue, marah adalah pahit yang ada di coklat.

Coklat baik yang pahit atau tidak, memiliki kandungan Phenylethylamine. Zat tersebut akan membuat kita merasa bahagia. Begitupun marah.

Yang jelas tak ada kandungan zat apapun dalam kemarahan. Tapi marah memang membuat kita bahagia. Lega akhirnya apa yang kita rasakan dan pikirkan tumpah ruah. Orang mengerti apa yang kita mau. Bahkan bisa tunduk dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bahagia kan?

Tapi kebanyakan coklat juga tidak membawa kebaikan dan kebahagiaan jangka panjang. Seperti kata orang tua, “nanti sakit gigi”. Dan pada masa pertumbuhan tentunya akan menambah berat badan dan jerawat akibat lemak jenuh yang masuk ke dalam tubuh, dan masih banyak lagi. 

Sama halnya dengan kebanyakan marah. Bikin sakit kepala, lalu tak bisa melihat jernih keadaan, panik, dan kejenuhan berkelanjutan untuk orang-orang di sekitar karena selalu melihat kita dengan muka keras, berteriak, dan mengeluh. Jarak antara kita dan orang lain ‘membengkak’ karena ego yang kita ikuti terus dan terus. Kesepian juga bukanlah yang kita mau, kan? 

Marahlah secukupnya, pada waktunya, saat dibutuhkan. Pahit yang dikonsumsi terus menerus akan mengeringkan tulang dan kita pun jadi ringkih.

Hidup? (Pt.2)

Kenapa gue?

Kenapa bukan dia?

Kenapa selalu susah?

Pertanyaan yang manusiawi sebenarnya. Saat masalah muncul dan kita merasa down banget, pertanyaan di atas akan mondar-mandir di kepala kita. Seperti yang gue alami beberapa hari ini, gue terkena flu. Dan flu merupakan penyakit yang sangat gue benci. Untuk menggerutu sepertinya merupakan hal yang wajar buat gue, karena sakit flu itu gak enak. Susah nafas, pusing, sampai gak bisa tidur. Muncul pertanyaan di kepala gue, “kenapa harus flu sih?”. Dan dengan keadaan seperti ini, bagaimana gue harus bersyukur?

Another case, saat gue kesusahan untuk melunasi uang semester. Jadi gue harus menunggu sampai duitnya ada dulu, baru gue diperbolehkan untuk menyusun jadwal kuliah gue. Singkat cerita, akhirnya uang semester tersebut mampu dibayarkan, tapi terlambat. Dan rencana susunan mata kuliah yang tadinya gue rancangkan jadi gak sesuai, karena kelas yang gue mau sudah penuh dan gue terpaksa ambil kelas lain. Memperlambat progress gue.

Gue merasa sangat marah dan mulai mengeluh. Bahkan gue sampai benci sama orang tua gue sendiri karena gak bisa melunasi uang semester gue tepat waktu. Muncul keluh kesah dalam diri gue, “kenapa harus gue yang seperti ini?”.


Kenapa, kenapa, dan kenapa…

Nyaman banget ya untuk menyalahkan keadaan atau orang lain saat kita merasa sial. Seakan-akan pihak luar yang berkontribusi penuh atas malapetaka yang hadir dalam hidup kita. Kita hanya korban, kita yang harus ditolong, dan harus dimengerti.

Sejenak kita ambil waktu untuk berpikir. Ini adalah hidup kita, kesialan ini ada di dalam hidup kita dan kita yang merasakan. Berarti, ada kita yang ‘bermain’ di dalamnya. Ada kontribusi yang kita berikan sehingga kesusahan ini terjadi. Tapi apa? Kontribusi macam apa? Gak mungkin kita memberikan hal yang menyusahkan untuk hidup kita sendiri. Gak ini bukan karena kita. Gak mungkin kita…

Setelah bertanya, munculah kemarahan.

Marah sama keadaan, marah sama orang lain, marah sama Tuhan. Berteriak dan seharusnya pihak luar itu harus mengerti kalau kita harus dimengerti. Pihak luar harus mendengar yang kita mau dan harus paham bahwa kita itu gak salah. Kesusahan ini bukan salah kita. Bukan karena kita. Dan kita gak seharusnya menerima ini. Dan kemarahan terasa sangat nyaman.

Setelah itu, apa yang akan kita alami?

Akan dibahas di tulisan gue yang selanjutnya ya. Check my previous post below.

Hidup?

people


Selasa, 17 Januari 2017.
Hari ke-17 di tahun 2017. Keren ya.


Di tanggal yang unik seperti ini, biasanya ada kejadian yang extraordinary. Misalnya, jadian, mendapatkan uang tambahan dari temen yang ngutang sama kita, atau bisa tiduran di rumah tanpa harus melakukan aktivitas bersih-bersih (yang ini gue kategorikan extraordinary karena gak semua bisa santai dirumah, pas hari kerja, and do nothing. Hail freedom!).

Tapi gak semua makhluk bisa mendapatkan keistimewaan tersebut. Bisa jadi, hari ini ada yang kerabatnya meninggal atau bingung harus bagaimana supaya besok dapur ngebul dan bisa makan. Dan tanggal ini, jadi tanggal sial untuk makhluk-makhluk tersebut.

Ada juga orang-orang yang tidak mengalami apapun. Gak beruntung, gak sial juga. Ya biasa aja. Beberapa ada yang mungkin merasa jenuh dengan kehidupannya. Merasa apa yang dijalani gak sesuai dengan yang diinginkan tapi sudah telanjur kecebur. Yaudah jalani saja apa yang ada. Flat.

“Bersyukur, apapun yang terjadi dalam hidup…”

Itu yang bokap gue sering katakan. Bersyukur.

Hidup seperti apa yang harus disyukuri?

Kalau kita mendapat keberuntungan, untuk bersyukur itu sepertinya gampang ya. Dengan mengucapkan “Puji Tuhan” atau “Alhamdullilah” sepenuh hati dan wajah sumringah. Coba kalau kita lagi sial atau hidup kita stuck di situ-situ aja, seberapa berat beban yang kita rasakan untuk bersyukur. Berat sih, gak berat banget. Ya berat lah…..

Gue menyadari, banyak kejadian di hidup ini yang merupakan konsekuensi dari keputusan dan tindakan yang kita ambil di masa lampau. Ya semacam hukum tabur-tuai. Dan gue sendiri banyak membuat keputusan yang salah dan bikin gue kalang kabut sekarang. Terus gue harus bersyukur? Gimana caranya? Apa yang harus gue syukuri? Masa gue bersyukur sementara ada masalah banyak di hidup gue?

Dilema banget ya.

Pertanyaan-pertanyaan dilema di atas masih gue cari tahu jawabannya. Which is, akan gue sambung di tulisan selanjutnya. Ditunggu komennya, kalau kalian yang baca ini mau komen, kalau gak mau ya jangan komen. See you.