Hidup? (Pt.2)

Kenapa gue?

Kenapa bukan dia?

Kenapa selalu susah?

Pertanyaan yang manusiawi sebenarnya. Saat masalah muncul dan kita merasa down banget, pertanyaan di atas akan mondar-mandir di kepala kita. Seperti yang gue alami beberapa hari ini, gue terkena flu. Dan flu merupakan penyakit yang sangat gue benci. Untuk menggerutu sepertinya merupakan hal yang wajar buat gue, karena sakit flu itu gak enak. Susah nafas, pusing, sampai gak bisa tidur. Muncul pertanyaan di kepala gue, “kenapa harus flu sih?”. Dan dengan keadaan seperti ini, bagaimana gue harus bersyukur?

Another case, saat gue kesusahan untuk melunasi uang semester. Jadi gue harus menunggu sampai duitnya ada dulu, baru gue diperbolehkan untuk menyusun jadwal kuliah gue. Singkat cerita, akhirnya uang semester tersebut mampu dibayarkan, tapi terlambat. Dan rencana susunan mata kuliah yang tadinya gue rancangkan jadi gak sesuai, karena kelas yang gue mau sudah penuh dan gue terpaksa ambil kelas lain. Memperlambat progress gue.

Gue merasa sangat marah dan mulai mengeluh. Bahkan gue sampai benci sama orang tua gue sendiri karena gak bisa melunasi uang semester gue tepat waktu. Muncul keluh kesah dalam diri gue, “kenapa harus gue yang seperti ini?”.


Kenapa, kenapa, dan kenapa…

Nyaman banget ya untuk menyalahkan keadaan atau orang lain saat kita merasa sial. Seakan-akan pihak luar yang berkontribusi penuh atas malapetaka yang hadir dalam hidup kita. Kita hanya korban, kita yang harus ditolong, dan harus dimengerti.

Sejenak kita ambil waktu untuk berpikir. Ini adalah hidup kita, kesialan ini ada di dalam hidup kita dan kita yang merasakan. Berarti, ada kita yang ‘bermain’ di dalamnya. Ada kontribusi yang kita berikan sehingga kesusahan ini terjadi. Tapi apa? Kontribusi macam apa? Gak mungkin kita memberikan hal yang menyusahkan untuk hidup kita sendiri. Gak ini bukan karena kita. Gak mungkin kita…

Setelah bertanya, munculah kemarahan.

Marah sama keadaan, marah sama orang lain, marah sama Tuhan. Berteriak dan seharusnya pihak luar itu harus mengerti kalau kita harus dimengerti. Pihak luar harus mendengar yang kita mau dan harus paham bahwa kita itu gak salah. Kesusahan ini bukan salah kita. Bukan karena kita. Dan kita gak seharusnya menerima ini. Dan kemarahan terasa sangat nyaman.

Setelah itu, apa yang akan kita alami?

Akan dibahas di tulisan gue yang selanjutnya ya. Check my previous post below.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s