Saya dan Dia

Tak terelakkan, cinta dari dua agama yang berbeda lebih sering tidak membuahkan hasil. Kalaupun ada buah, pasti tidak ranum dan tidak manis. Setiap orang berusaha untuk melogikakan cinta dan agama. Cinta macam apa yang masuk dengan logika dan agama yang mana yang berlandaskan akal manusia? 

Saya dan dia, kami terjebak status agama yang tak bisa kami hindari. Entah karena iman kami yang belum seberapa tapi mampu membuat kami takut untuk memilih, atau keluarga kami yang jasanya tak dapat dinilai, atau karena orang lain yang akan mencibir dan memberlakukan kami seperti manusia tak layak hidup di hadapan Tuhan sendiri. Pertemuan dan perjalinan hubungan kami tak pernah mulus sedari awal. Bahkan, kami mencoba untuk berpikir sehat bahwa kami tidak akan pernah bisa bersatu. Sampai kepada plot cerita, dimana kami mengalami perpisahan dan memutuskan untuk kembali. Semuanya kami lakukan dengan modal ‘jalani saja dulu’. 

Bagi pembaca, saya akan sangat mengerti bahwa ‘jalani saja dulu’ merupakan sebuah kekeliruan, karena tidak akan menimbulkan hasil yang baik. Bahwa itu hanya menunda perpisahan yang justru semakin sakit jika semakin ditunda. Tapi resiko sudah ada di depan mulut saya. Saya sudah siap mengunyah, dan menelan. Biarlah itu dicerna dalam tubuh dan beredar diseluruh jaringan tubuh saya. 

Andai saja setiap orang, diluar dari hubungan kami melihat dia dengan cara saya. Saya tak melihat dia dari suku apa, agama apa, status sosial seperti apa, finansial yang bagaimana, dan seperti apa masa lalunya.Saya mengenal dia dengan cara yang sulit. Mengingat dia bukan orang yang terbuka. Bahkan, saya harus menunggu selama 1 tahun untuk bisa bersama dengan dia. Itu membuat dia begitu berharga bagi saya karena dia mampu membuat saya menunggu sampai selama itu.

Kalian bisa bayangkan, betapa lama 1 tahun untuk sebuah pendekatan. Saya tak pernah sedetikpun berusaha untuk mengalihkan pandangan saya kepada yang lain selama masa 1 tahun itu. Meskipun ada perasaan ragu yang besar. Saya tipe orang yang tahu apa yang saya mau dan memang untuk saya. Karena itu, saya tak masalah dengan seberapa lama saya harus menunggu sampai dia siap untuk memulai. 

Tapi, proses pengenalan itu tak terjadi secara sempurna dalam kurun waktu 1 tahun pendekatan tersebut. Saya dan dia saling mengenal, memperlihatkan bentuk, dan rupa jiwa kami dengan proses menyakitkan. Seringkali banyak diam, bertengkar, menangis (saya khususnya), dan akhirnya rujuk dengan cinta yang tak habis-habis rasanya. Sampai suatu ketika, kami memutuskan untuk berpisah.

Selama 4 bulan kami sama sekali tidak berkomunikasi dan itu membuat saya pribadi sangat tersiksa. Saya sangat salut sekaligus benci dengan kemampuan yang dia punya. Dia mampu untuk mengalihkan apa yang dia rasakan dan kuat untuk tidak melakukan kontak dengan saya selama 4 bulan itu. Sungguh mati, saya ingin bisa seperti itu. 

Singkat cerita, kami kembali lagi menjalani hubungan. Sama sekali tidak mudah karena semasa itu pun kami tak lepas dari perbedaan prinsip dan cara untuk menjalani sebuah hubungan. Dan karena itu kami sering sekali bertengkar.

Dia melihat, bahwa setiap pertengkaran yang membuat saya menangis dan sedih, dan membuat saya dengan kurang ajarnya dan egoisnya berkata lelah dan capai tanpa mau tahu bahwa dia pun berusaha keras juga untuk berubah. Tapi saya hanya ingin dia tahu, ini caranya mecintai. Mungkin cara yang saya punya tidak sempurna, begitupun cara yang dia punya. Tapi terlepas dari berbagai tangis dan argumen yang kami lakukan, saya rasakan perasaan saya semakin kuat. 

Dia membentuk diri saya untuk lebih teliti dalam melihat sebuah persoalan. Menimbang segala sesuatu bukan karena emosi pribadi semata dan mengingatkan saya bahwa hidup bukan tentang saya saja. Dapatkah anda mengerti, pembaca? Dia sudah menunjukkan bagaimana caranya agar tidak egois menghadapi suatu keadaan. Itu yang saya lihat, bukan prinsip keadilan dari agama yang dia anut. 

Dan masih banyak lagi…. 

Saya tidak melihat dia sebagai penganut agama apa. Saya hanya melihat dia, dengan keburukan dan kebaikannya dan dari situ rasa sayang yang saya miliki tetap bertumbuh setiap harinya.

Saya yang paling egois dalam hubungan ini, saya harus akui itu. Ketakutan yang saya rasakan begitu besar karena saya pernah kehilangan dia. Saya takut akan bertemu dengan sikap dan lakunya yang akan menyakiti saya. Saya sering sekali takut sampai saya jadi buta daratan. Karena itu, saya sering bertengkar, memarahi, dan menangis. Dia pasti lelah. Karena itu, maafkan saya. 
Dan kini, saya dan dia sedang berada di persimpangan. Dimana kami sedang menimbang, apakah kaki kami yang sudah banyak luka ini mau untuk tetap melangkah di jalan yang kami akan lalui? Yaitu, agama dan keluarga?

Saya tidak tahu apa hasil akhir dari cerita saya dengan dia. Satu yang menjadi harapan saya. Jikalau ini tak berhasil dengan berbagai cara, saya harap dia mengenang saya…. 

Sebagai perempuan yang mati-matian mencintai dia. Saya adalah perempuan yang mau melakukan apa saja demi dia. Saya adalah perempuan yang menyayangi tiap lekuk wajah dan tubuhnya. Saya adalah perempuan yang akan terus menyayangi masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Saya adalah perempuan yang terus menyimpan cinta untuknya. Selalu ada waktu untuk dia.

Selalu ada untuk dia… 

Selalu… 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s