10 menit 17 detik

Nuraini.

Aku mengenalnya ketika aku sedang menunggu hujan reda di halte Tanjung Barat, tepatnya senin sore menjelang maghrib. Tak seketika itu juga aku langsung menyapa dan berbincang dengannya. Seperti layaknya warga biasa saja, ritualnya adalah, duduk lalu melamun atau terhipnotis oleh smartphone.

Aku memilih untuk tidak menggerayangi si ponsel pintar. “Hujan lebih menarik” pikirku. Gestur duduk pun aku atur, mencoba menghindari tampias air hujan sembari  menjejalkan pantatku agar mendapat posisi nyaman tapi tidak menjadikan wajah orang lain sinis. Maklumkanlah, saat ada lahan kosong untuk bokong, saat itulah semua manusia berada di tingkat keegoisan tertinggi. Pantatku adalah prioritas!

Setelah mendapat posisi yang nyaman, aku hendak memulai ritual memandang hujan. Sekujur tubuhku terasa panas di tengah hawa lembap sekaligus sejuk akibat perjalanan naik turun tangga jembatan penyebrangan dari stasiun ke halte. Aku mencoba untuk santai dan membiarkan hawa hujan pelan-pelan masuk melewati pakaianku. Mata pun kuarahkan kepada hujan.

“Hujan kali ini tidak normal, seperti direka-reka.” kataku dalam pikiran. Kala itulah, sekilas aku tengok perempuan itu. Dia pun memandang hujan tapi tidak seperti aku yang menatap lurus ke depan, dia menengadahkan kepalanya ke atas dan mengatur matanya ke kejauhan awan kelabu. Dia tak pernah merubah posisi itu, dia seperti sedang menunggu langit untuk memberikan tetes terakhir. Matanya sendu dan bibirnya sarat senyum pilu. “Lagi berdoa kali ya?” pikirku. 

Berdoa pada langit? Atau pada air hujan? Yah aku tau apa. Tapi dia begitu khidmat dan tak bergerak sesenti pun. Tersentak, aku merasa segan karena aku juga memandangi dia seperti cara dia memandang, seketika aku atur kembali gesturku. Perlahan rasa penasaran muncul dalam hatiku dan otak ku mulai menyusun huruf per huruf yang menjadi kata lalu beranak pinak yang pada akhirnya menjadi kalimat, “Apa yang kau pandang sebenarnya?” dan syarafku mulai diperintah untuk menggerakkan bibir. Ku tahan seketika itu juga, konyol! Kepo yang tidak perlu. Aku bentak diriku sendiri untuk melakukan hal yang perlu saja.

Sudah dua jam tapi hujan tak kunjung berhenti. Dan selama dua jam itu juga Nuraini, yang nanti ku ketahui namanya setelah berkenalan, bertahan pada posisi yang sama. Tingkahnya itu, membuat aku semakin kepo tak karuan. Dari penasaran yang sederhana sampai kepada yang rumit tingkat dewa. Asumsi-asumsi mulai terbentuk di kepala, mengantri untuk disuarakan. “Kalau setengah jam lagi hujan tak berhenti dan dia masih seperti itu. Aku akan bertanya!” komitmenku yang nekat ini terasa kuat sampai aku merasa yakin. 

Setengah jam lagi pun berlalu dan dia tetap pada posisi itu. Aku bulatkan tekadku yang sudah ku bentuk setengah jam sebelumnya dan ku gerakkan bibirku sambol mengantar jari telunjukku ke kulit lengannya. Aku menghentakkan pelan jariku pada kulitnya dua kali, bibirku mulai bergerak “Mbak, tidak pegal?”. Dari situlah, percakapan selama 10 menit 17 detik itu dimulai.

“Ah iya, pegel mbak. Hujannya lama ya.” katanya dengan ramah dan santai seperti sudah kenal dengan ku satu semester. 

“Aku memperhatikan mbak dari tadi. Awalnya sih lihat hujan.” balasku

“Iyakah? Tak sadar aku.”

Aku pun mencoba untuk lebih beradab, “Namaku Ema. Siapa namamu?”. 

“Nuraini. Senang punya teman baru, kini kosakata namaku bertambah. Ema.” jawabnya dengan suara lembut. 

“Apakah kau berdoa? Barusan? ”

Nuraini menjawab,”Ya, bisa disebut seperti itu. Tapi aku tak terlalu mematokkan apa yang aku lakukan kepada satu lingkup kegiatan saja, mbak. Tadi itu aku melakukan banyak hal.”

Aku pun bingung.”Maksudnya?” 

“Ya aku memang berdoa. Berbicara tentang harapan dalam hati itu berdoa kan? Aku juga berandai-andai tentang hujan yang dilahirkan langit secara massal, aku berpesan kepada langit jangan melahirkan terus. Anakmu akan mengamuk dan menggenangi bumi nanti bersama dengan sungai dan kali. Semoga langit mau mengerti ya, mbak.”

Orang ini gendeng, pikirku. Tapi anehnya hasrat kepo ini semakin meningkat volumenya. Bibirku pun berkicau melanjutkan pertanyaan. 

“Mbak, langit macam apa yang mau menerima pesan manusia?”

Dia menatap mataku, mata tersendu yang pernah kulihat dengan lingkar mata panda yant terpampang jelas. Diapun menjawab, “Langit yang baik, mbak.” senyum menyertai jawabannya. Ah! Aku tak mengerti. Aku memilih untuk menganggukkan kepalaku tanda mengerti (yang sebenarnya tidak) dan usainya pembicaraan. Aku sedikit terkejut ketika mendengar suaranya kembali, “Aku sedang menunggu. Hanya langit yang mau menerima keluh kesahku tanpa menggurui dan berkomentar, berkritik serta berwasiat. Dia selalu disana, tidak pernah sengaja pergi atau mengacuhkan. Menunggu itu melelahkan, mbak. Kau pasti tahu. Dan hanya langit yang mampu mendengar keluh lelahku tanpa berambisi untuk membalas kesahku itu.”

Aku pun mengangguk lagi sambil bergumam, “Oh…..”

Aku tak mengerti, sebagai manusia aku menginginkan respon dan saran terkait apa yang kuceritakan mengenai hal baik atau hal buruk. Tapi aku tak mengerti juga mengapa aku harus berpikir seperti ini. Dia adalah dia. Aku adalah aku. Aku tak bisa memaksakan apa yang kuanggap ideal kepada semua orang, ku jejalkan renungan singkat barusan itu ke nuraniku agar aku bisa mengontrol diri.

10 menit 17 detik pun berlalu. Sekarang pukul 8.59 WIB. Hujan sudah mulai berhenti. Aku mulai membuka handphone dan memilih aplikasi ojek online, mengatur lokasi menuju rumah. Dan Nuraini masih duduk disitu, dan saat ku tengok kali ini dia memandangiku. “Mbak ema, kau adalah langit yang baik. Entah kau mau atau tidak, usahakan jadi langit yang baik selalu.”
“Iya mbak Nuraini. Saya duluan ya, mari.” jawabku. 

“Mari, mbak.” balasnya.

Langit yang baik, langit yang baik. Apa sih?? Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan melanjutkan perjalananku ke rumah. Sepanjang jalan, ternyata driver ojek kali ini sangatlah suka berbincang dan ramah. Jujur aku sangat lelah dan hanya ingin duduk menikmati perjalanan yang tersisa. Tapi, dia tidak berhenti berbicara. Driver ini terus mendongengkan keluh kesahnya sepanjang hari ini dan aku pun hendak memasang earphone. Sekilas saat merogoh tas mencari earphone itu, sambil mendongakkan kepala agak serong ke atas tak sengaja aku memandang langit jernih sehabis hujan. “Langit yang baik.” pikirku. 

Percakapan 10 menit 17 detik itu pun tereka ulang secara mendadak. Terpapar jelas dan kuat visual dan suara Nuraini ketia ia mengatakan, “Hanya langit yang mau menerima keluh kesahku tanpa menggurui dan berkomentar, berkritik serta berwasiat. Dia selalu disana, tidak pernah sengaja pergi atau mengacuhkan….. Kau adalah langit yang baik, jadilah langit yang baik selalu.”

Aku pun terdiam. Aku hentikan kegiatan ku mencari earphone. Dan ku coba untuk menajamkan telingaku agar cerita driver ini bisa kudengar. Mengagumkan sekali kemampuan driver ini untuk berkata-kata, tidak mengenal lelah. Dan aku pun heran dengan keberadaanku yang diam sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah. Saat aku hendak membayar, driver itu berkata, “Mbak, maaf saya berbicara terus. Saya mencoba untuk profesional tetapi saya hanya ingin berbicara, mbak. Abisnya kebelet mau curhat, capek mbak hehe.” 

Aku pun menjawab, “Iya saya juga capek. Sama-sama capek kita, pak. Tapi bapak tidak capek untuk melawan capek. Itu hebat loh pak.” 

Dia tersipu, lalu berkata “Tak akan pernah berhenti melawan capek, mbak. Istri merindukan saya di rumah. Saya harus pulang membawa hasil untuk membalas tenaga yang dia keluarkan saat merindukan saya.”

Aku pun tersenyum.”Ini pak, uangnya. Semoga berkah. Terima kasih.”

“Semoga. Terima kasih kembali, mbak.”dan dia pun pergi. 

Langit yang baik. Ema yang baik. Ema yang diam sepanjang perjalanan mendengarkan driver bercerita tanpa berkomentar dan tidak acuh. “Apa yang aku dapat dari itu semua? Hanya cerita.” pikirku. Tapi… Aku mulai mengingat kembali, wajah bapak itu mengkerut kali pertama aku bertemu saat dijemput dan berubah drastis saat sampai di depan rumah. Lelah masih, tapi lebih lempeng dan tidak keras garis wajahnya. Matanya berbinar saat menyebut kata “istri” dan “rindu”. 

“Dia berubah.” kataku pelan. “Diamku membuat dia berubah cerah. Aneh.” kataku lagi sambil garuk-garuk pipi. 

Langit yang baik. Ema yang baik.

Sejak setelah itu, aku selalu memandang langit. Tersadar akan ketenangannya mengawasi awan bergerak dan membiarkan cahaya matahari menyengat melewatinya, kelihatannya dia sangat paham sekali bahwa manusia butuh itu. Dan mengetahui juga bahwa dia tidak marah saat petir menggelegar semaunya dan hujan membuat warnanya kelabu. Dia merasa, melihat, dan mendengar itu semua. 

“Langit yang baik.” pujiku padanya.

Nuraini itu wanita ajaib. Aku berharap bisa bertemu kembali dengannya. Setiap aku duduk di halte Tanjung Barat, aku sempatkan duduk lebih lama agar bisa bertemu. Tapi dia tak kunjung muncul. “Nuraini yang ajaib, dan baik..” kataku sambil berdesah. Lalu aku mengangkat pantatku, berjalan menuju ojek online yang sudah sampai untuk mengantarku pulang. 

(Senin sore di Perpustakaan UI, seminggu setelah) 

Laki-laki itu duduk di halaman Perpus, mengarah ke danau. “Lelahnya…” kata laki-laku itu. 

Di sampingnya, duduk seorang perempuan. Manis parasnya dengan rambut hitam legam sampai batas leher. Sedang mendongakkan kepalanya ke arah atas. Laki-laki itu mencoba membuka pembicaraan, “Mbak, maba ya?” 

“Saya tidak kuliah disini, mas.” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. 

“Lalu, mbak dari mana? Mau baca buku? Atau ngapain nih?” balas laki-laki itu berusaha ramah. Meskipun sudah mulai ragu karena lawan bicaranya tidak mau menengok kepadanya. 

Perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya sangat sendu dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. Senyumnya pilu seraya menjawab, “Berbicara, mas. Dengan dia, langit yang baik…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s