Langit Tak Tega

Malam itu Nuraini buka jendela kamar. Hujan terjadi setelah berhari-hari langit enggan menurunkannya. 

“Langit tak melahirkan, tapi menangis kali ini,” ucapnya dalam hati. 

Nuraini berandai-andai, siapa yang bersedih dengan sangat hari ini? Sengaja Nuraini mebiarkan jendela terbuka dan tampias air hujan pun mulai masuk ke dalam kamar kosnya. Nuraini hanya menatap dengan sendu rintik air yang bebas masuk itu.

“Siapa yang sedang bersedih sampai seperti ini?” kata Nuraini sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit malam. Hatinya gundah dan menumpuk semakin tebal menjadi gelisah. Siapa? Siapa? Siapa? Gema kata itu semakin keras menggaung dalam kepalanya.

Tak kuasa menahan, dia mengambil payung lalu bergegas berlari keluar dari rumah kosnya. Hujan yang turun kala itu tidak sangat deras, tapi cukup untuk membuat Nuraini tak tega. Nuraini memutuskan untuk berjalan ke arah jalan raya. Ditengoknya ke kanan dan ke kiri, sejauh trotoar luas yang terbentang Nuraini tidak melihat siapapun. “Dimana dirimu?” ucapnya gelisah.

Nuraini memutuskan untuk berbelok  ke kiri dan menyusuri trotoar dengan langkah tenang. Digenggamnya gagang payung dengan erat sampai-sampai tangannya tidak merasakan hawa dingin akibat hujan. Semakin jauh dia berjalan semakin ngilu rasa yang timbul di dalam dadanya.

Ketika tiba di sebuah persimpangan, Nuraini dengan yakin mengubah arah langkahnya. Dia memutuskan untuk berbelok ke arah kiri menyusurin jalan. Di kiri dan kanan hanya ada rumah warga dan beberapa rumah makan. Ketika dia melewati warung pecel lele yang mangkal di pinggir kali, Nuraini terdiam sejenak. “Kamu pernah disini, kamu yang bersedih. Sekarang dimana kamu?” gundahnya dalam hati.
Nuraini pun melanjutkan perjalanannya. Hujan tak kunjung berhenti dan air hujan kala itu sudah membasahi celana Nuraini dari lutut hingga mata kaki. Ketika itu juga, lewatlah seorang bapak-bapak yang merupakan tetangga rumah kos Nuraini. Bapak-bapak itu heran, mengapa Nuraini berjalan-jalan ditengah hujan seperti ini? Hendak bertanya, tapi si Bapak mengurungkannya dan memutuskan untuk tetap berjalan melewati Nuraini. Tapi Nuraini dengan sigap menahan tangan si Bapak dan langsung berkata, “Bapak, siapa yang bersedih hari ini? Air hujan sampai seperti ini.” 

Si Bapak bingung, menurutnya ini hanya hujan seperti pada umumnya. Basah, berair, dan turun dari langit berjamaah. “Tidak tahu, mbak. Kalau pertanyaan mbak seperti itu. Memang kenapa air hujannya?” 

“Bapak tak tahu siapa yang bersedih? Saya mencari-cari dari tadi. Air hujannya pak, air hujannya,” balas Nuraini

Merasa ada yang tidak beres dengan perempuan ini, Bapak itu pun langsung pergi berjalan tegak lurus tidak menengok sekalipun. Nuraini hanya diam sembari melihat si Bapak yang semakin kecil gambaran tubuhnya, dan dia kembali berjalan.

Kakinya mulai terasa pegal, dan yang dicari pun tak bertemu juga. Nuraini memutuskan untuk kembali pulang ke rumah kosnya. Nuraini mengambil langkah pelan, telapak tangan kanannya yang sedang bebas tugas ditengadahkannya ke arah hujan turun. Air hujan menyentuh kulit telapaknya yang pucat. “Maafkan aku, aku belum bisa menemukanmu.” kata Nuraini. 

Tinggal 15 langkah kaki lagi dan Nuraini akan sampai. Dia menghitung tiap langkah itu, mencoba untuk mengulur waktu agar tidak cepat sampai. “1, 2, 3….” rapalnya dalam hati. “13, 14…”

Satu langkah lagi….. 

Dan disitu, di depan rumah kosnya duduklah tubuh seorang perempuan. Nuraini hanya terdiam, syarafnya tidak menerima perintah apapun untuk memunculkan ekspresi di wajahnya. “Akhirnya…” ucapnya pelan.

“Hujan ini karena kamu, mbak. Kenapa kamu?” kata Nuraini

“Saya rasa mbak sudah tahu.” jawab perempuan itu. 

“Sedih pasti. Saya tahu. Sedihmu membuat langit sampai begini tapi. Seperti apa didalam badanmu itu, mbak?” tanya Nuraini kembali. 

“Porak poranda, mbak. Porak poranda. Gedung-gedung yang kubangun di dalam badanku. Dia yang ku simpain baik-baik di dalam ini, telah pergi. Gedung-gedung ku tak terawat, dan hanya dia yang mampu merawat. Aku…” 

Perempuan itu menatap lurus kedepan tapi jauh entah kemana yang dia lihat. Nuraini duduk disampingnya, memberikan teduh dengan payungnya. “Maka biarkan dia pergi, mbak.” kata Nuraini. 

“Sudah, mbak. Tapi bagaimana kalau dia menemukan gedung baru?” tanya perempuan itu, suaranya mulai bergetar.

“Ku kembalikan pertanyaan itu kepadamu, mbak. Gedung dalam badanmu kuat,” Nuraini memegang bahunya. 

“Kasihmu padanya meretas mazhab yang ada. Mengatasi langit, sampai-sampai langit tak tega seperti ini.” lanjutnya.

“Berbahagialah dia, mbak. Maka berbahagialah dirimu. Sakitlah dia, maka sakitlah dirimu. Matilah dia, maka matilah juga dirimu. Mbak, tunggu kalau memang mbak mau.”

Perempuan itu tetap diam dan Nuraini meninggalkannya. Dia tahu perempuan itu sudah hancur jeroannya. Saat masuk ke kamar, Nuraini menangis sampai pagi.

Pagi setelahnya… 

Nuraini berjalan di trotoar hendak menikmati pagi. Dia pun tahu ada yang harus dia lakukan karena dia sudah bersiap dari semalam. Setelah sampai di persimpangan yang ia lewati kemarin, dia pun berhenti dan menunggu. Tiba-tiba, terdengar suara rem mendadak dan benturan keras, kerumunan berteriak tak beraturan. Nuraini melihat dari kejauhan.

Setelah kerumunan sedikit memencar dari tempat kejadian, Nuraini melangkah mendekat. Dan disitu, perempuan semalam, tergeletak berdarah dikepala dan dada. Mukanya mulai pucat seiring dengan darah yang mengalir keluar. Nuraini tanpa segan menyentuh wajah perempuan itu dan berkata, “Matilah dirinya, maka matilah dirimu. Tapi karena kasihmu, semesta memilih untuk kamu mati baginya terlebih dulu. Jeroanmu sudah tak sanggup kalau harus menahan duka kematiannya, mbak” ucapnya lirih. 

Disitu, Nuraini menangis tanpa suara. Dan hujan pun kembali turun. Kali ini, deras tak terbendung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s